Jumat, 17 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Kunci Sukses Memimpin: ”Tak Perlu Cerdas Sekali, Namun Mengedepankan 10 Unsur Kepribadian”.

Sepulang dari kuliah mata kuliah pemberdayaan masyarakat, malam ini maksud hati ingin mencoba browsing literature berkaitan tugas kuliah yang ditugaskan oleh Prof Suryanto dan juga tugas dari Prof Muchlas Samani (mantan Rektor Unesa) tentang menganalisa 1 diantara 10 tokoh luar biasa (10 Virtues of Outstanding Leaders).

Tiba-tiba secara tak sengaja malah aku betah membaca dan mencermati satu artikel dengan judul 10 Kepala Daerah Terbaik (Tokoh 2008 Versi Tempo).

Artikel tersebut membuat saya semakin penasaran dan tertarik untuk mendalaminya karena diantara 10 Kepala Daerah Terbaik tersebut tercantum nama Suyanto yang cuman hitungan jam sebelum menuliskan ini, aku ketemu orangnya di kampus Universitas Airlangga Surabaya, yang tak lain beliau adalah teman kuliah S3 calon Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).





10 Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Jusuf Serang Kasim- Wali Kota Tarakan, Herry Zudianto- Wali Kota Yogyakarta, David Bobihoe Akib- Bupati Gorontalo, Andi Hatta Marakarma- Bupati Luwu Timur, Suyanto- Bupati Jombang, A.A GDE Agung-Bupati Badung Bali, Joko Widodo- Wali Kota Solo, Untung Sarono Wiyono Sukarno- Wali Kota Sragen, Ilham Arif Sirajuddin- Wali Kota Makassar, Djarot Saiful Hidayat- Walikota Blitar.


Ada begitu banyak pelajaran dari sepuluh tokoh ini. Banyak inovasi dan terobosan yang mereka lakukan. Kriteria yang digunakan adalah: pelayanan publik, transparansi, dan keramahan pada dunia usaha.
Banyak tokoh lokal yang ternyata mampu melahirkan terobosan dan inovasi—yang tak muncul pada masa kepala daerah ”diterjunkan” dari atas. Mereka menolak fenomena klasik birokrasi: korupsi, inefisiensi, bekerja tanpa visi. Sepuluh orang ini menempatkan teladan dan kejujuran di urutan pertama. Mereka percaya, komunikasi yang intens merupakan kunci keberhasilan, bukan komunikasi yang instan. Mereka sabar mendengar rakyat, dan bekerja mencapainya.

Seperti kata Jusuf Serang Kasim, Wali Kota Tarakan, negara kesatuan ini memang harus dibangun dari daerah. Dokter ini pun menyulap Tarakan dari kota sampah menjadi ”Singapura kecil” dalam waktu sepuluh tahun. Sebelum era otonomi, Jusuf mengaku tak ubahnya seorang satpam yang hanya melaksanakan perintah atasan.
Seorang Untung Sarono Wiyono Sukarno dengan kegairahan luar biasa pada teknologi informasi menghubungkan semua desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan jaringan Internet. Di tangan pengusaha minyak dan gas itu efisiensi pemerintahan meningkat pesat.

Wali Kota Solo Joko Widodo—yang di daerahnya disapa Jokowi—mendemonstrasikan bagaimana memanusiakan warganya. Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. ”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mendapat julukan ”Wagiman” alias wali kota gila taman. Tapi ia tak peduli. Ia terus berjalan, membeli lahan-lahan kosong hanya untuk taman. Yogya terasa segar, karena taman bertambah dari 9 menjadi 22 hektare.

Bertahun-tahun Lapangan Karebosi di Makassar menjadi milik para waria pada malam hari. Kemudian datanglah wali kota baru, Ilham Arif Sirajuddin, 43 tahun, yang dengan berani mengubah lapangan itu. Ia yakin, warga Makassar perlu lebih banyak ruang terbuka. Ia dilawan, didemo, tapi ia tahu bahwa kepentingan publik nomor satu. Lapangan kumuh dan kerap direndam banjir itu akhirnya menjelma menjadi tempat yang megah tanpa kehilangan label sebagai tempat rendezvous penduduk.

Di Blitar, Jawa Timur, Djarot Saiful Hidayat memulai pekerjaan dengan mereformasi birokrasi yang tambun dan lamban. Dengan begitu, ”Anggaran belanja daerah pasti cukup, asal jangan dikorupsi,” kata penerima berbagai penghargaan di tingkat nasional ini. Ia tak mengganti mobil dinasnya, Toyota Crown tahun 1994, sejak hari pertama menjabat. ”Modal saya hati. Saya ingin warga Blitar maju dan sejahtera,” ujar Djarot, yang sudah dua periode menjabat.

David Bobihoe meruntuhkan pagar rumah dinasnya di Kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Pos jaga ia ratakan dengan tanah. Tamu dari mana saja bebas duduk-duduk di teras rumah, tanpa terhadang aturan protokol ketat. Dia rajin berkeliling daerah, mendengar kemauan orang banyak. Ia sukses mengajak rakyat membangun, menanam jagung, dan mengekspor hasilnya.

Bupati Badung, Bali, Anak Agung Gede Agung, punya masalah berat: ekonomi penduduk timpang. Di daerah selatan, Kuta dan sekitarnya, masyarakat makmur karena pariwisata. Tapi petani di utara miskin. Sekolah pertanian ia bangun. Agrobisnis dikembangkan. Ia berhasil. Badung sekarang sanggup menyumbangkan sebagian pendapatan untuk enam kabupaten lain di Bali.

Nun jauh di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Bupati Andi Hatta Marakarma menghadapi daerah pemekaran dengan potensi bagus tapi miskin prasarana. Ia membangun desa, termasuk jalan, dan membiarkan kantornya sangat sederhana. Resepnya jitu. Ekonomi rakyat berkembang. ”Dulu ongkos angkut satu karung gabah Rp 9.000, sekarang hanya Rp 2.000,” kata salah seorang ketua kelompok tani di Luwu.

Bupati Jombang Suyanto mengundang dokter-dokter spesialis berpraktek di puskesmas. Protes datang dari instansi kesehatan karena ia dinilai melecehkan dokter spesialis. Ia jalan terus dan sekarang puskesmas menyandang tingkatan ISO. Ia juga menggratiskan sekolah sampai sekolah lanjutan atas. ”Pemimpin itu tak perlu cerdas sekali. Yang penting lurus hati, mulai berpikir sampai berbuat,” ujar bupati yang mengaku hanya menghabiskan Rp 40 juta untuk pemilihan kepala daerah itu.

Di antara miskinnya stok pemimpin di tingkat nasional, otonomi daerah terbukti sudah memunculkan talenta-talenta baik, muda, kreatif, dan tahu benar cara memikat hati rakyat. Mereka tidak hanya berasal dari birokrasi, tapi juga datang dari kalangan pengusaha atau pendidik. Mereka lahirkan kejutan yang asyik. Satu yang membanggakan: mereka tidak terkena virus korupsi.
Kami yakin, masih banyak lagi tokoh berprestasi yang luput dari radar kami.Tapi 10 Tokoh Tempo 2008 ini agaknya mewakili satu kenyataan: masih banyak orang yang bekerja dengan hati, untuk Indonesia yang lebih baik.

Kesimpulan Kesuksesan dari sepuluh orang tersebut adalah :
Mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses.

Sepuluh sikap yang harus dipunyai itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Keberanian untuk berinisiatif :
Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang!
Lihat saja : Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif.
Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.

Kedua, Tepat waktu :
Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut.
Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.

Ketiga, Senang melayani dan memberi:
Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi.
“The more you give to others, the more respect you get in return”
Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja!
Tetapi, setidaknya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.

Keempat, Membuka diri terlebih dahulu: 
Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka.
Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses.
Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?

Kelima, Senang bekerja sama dan membina hubungan baik: 
Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama.
Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru.
Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.

Keenam, Senang mempelajari hal-hal baru:
Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya.
Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.

Ketujuh, Jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama: 
Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.”
Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal.
Mengapa?
Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).

Kedelapan, Berani menanggung resiko:
Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh.
Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan?
Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.

Kesembilan, Tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat): 
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada.
Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya.
Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.

Kesepuluh:  “Comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya.
Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya.
Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka.
Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri.
Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan.

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CCgQFjAC&url=http%3A%2F%2Fmapbigi.files.wordpress.com%2F2009%2F08%2Ftugas-10-tokoh-2008.doc&ei=PTVBVN2dD4a1mgXNvIK4Aw&usg=AFQjCNHRK8m8b_etK1GQbpaqVggZuXGN0w&bvm=bv.77648437,d.c2E&cad=rja

Sabtu, 11 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

APAKAH GAYA KEPEMIMPINAN = KEPRIBADIAN ANDA ?

Setiap pribadi manusia adalah pemimpin, baik sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan maupun bangsa dan negara.
Berbicara kepemimpinan ini sangat erat kaitannya dengan kepribadian.

"Jati diri anda tidak akan pernah bisa berubah seperti idola anda. Demikian pula dengan gaya kepemimpinan anda, tak akan pernah bisa lepas dari kepribadian dasar anda".

Hal tersebut diatas dipertegas oleh dosen saya, Prof.Dr. Suryanto,M.Psi saat kuliah perdana program doktoral S3 PSDM mata kulah Komunikasi dan Kepemimpinan hari ini Sabtu, 11 Oktober 2014 Ruang 105 gedung Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa seorang pemimpin itu tidak lepas dari kepribadiannya. Kita ambil contoh Menteri Pendidikan Nasional Muh.Nuh, gaya kepemimpinan yang diterapkan saat menjadi Mendiknas tidak jauh beda saat jadi pimpinan aktif dikampus di Surabaya, ujarnya.

Ada 4 (empat) gaya kepemimpinan berdasarkan kepribadian seseorang.
Keempat gaya kepemimpinan itu adalah :

1. Gaya Kepemimpinan Karismatis
2. Gaya Kepemimpinan Diplomatis
3. Gaya Kepemimpinan Otoriter
4. Gaya Kepemimpinan Moralis

Saat ini teori-teori mengenai pembahasan gaya kepemimpinan semakin berkembang, namun ada 3 (tiga) gaya kepemimpinan yang pertama kali dikemukakan oleh Lippit antara lain:
  • Gaya Kepemimpinan Otokratis :  Gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh.  Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
  • Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic:  Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
  • Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire:  Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.


Selengkapnya bisa download klik  DISINI



Sabtu, 04 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

ANAK NEGERI BERHAK KEJAR CITA SETINGGI MUNGKIN

Jadi Inspirator di KI Surabaya, Rasanya Ingin Mengulang Masa Kecilku.
Kelas Inspirasi atau disingkat KI merupakan solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di sekolah, di dalam maupun di luar lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan sekolah tempat dia berpartisipasi. Partisipasi para profesional tersebut dalam bentuk kerelaan untuk izin tidak bekerja/tidak kuliah atau mengambil cuti sehari demi berbagi pengalamannya kepada  para siswa. Kerelaan tersebut merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan kepentingan institusi tempat dia berprofesi. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi.
KI ini sungguh bernilai positif  baik bagi sekolah, khususnya para siswa, bagi para relawan itu sendiri, juga bagi perkembangan pendidikan. Melalui kelas inspirasi ini para siswa dapat termotivasi untuk meraih cita-citanya dengan lebih bersemangat melalui tekun belajar, berusaha dan berdoa guna menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Sekilas ceritaku di kelas inspirasi Surabaya:
Hari itu, Senin 29 September 2014 setelah beristrahat malam sekitar 2 jam, aku harus bangun lagi tepat pukul 04.30 WIB untuk mempersiapkan diri menjadi salah satu inspirator/relawan kelas inspirasi Surabaya di SDN Margorejo 1 Kecamatan Wonocolo Surabaya Jawa Timur.
Hari sudah pagi, matahari sudah mulai menampakkan diri, dengan keikhlasan dan semangat yang aku miliki, tepat pukul 06.00 melangkahkan kaki dari rumah (Kenjeran) menuju lokasi.
Sesuai kesepakatan dan pemberitahuan dari fasilitator kelas inspirasi (mba’ Izam/Dwi), bahwa kami  akan kumpul di SDN Margorejo 1 pukul 07.00 WIB. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, tibalah aku di SDN Margorejo 1 yang saat itu tampak para guru dan murid tengah berbaris upacara apel pagi.

Sambil memperhatikan upacara yang sedang berlangsung dari luar pagar, saya mencoba memastikan posisi teman-teman tim kelas inspirasi lainnya. Kelihatannya aku yang paling pertama tiba dilokasi, saya mencoba mengontak mbak Indah melalui pesan singkat (sms), sekaligus memberitahu kalau aku sudah berada di lokasi SDN Margorejo 1. Menunggu beberapa menit namun tak kunjung datang juga balasan sms dari mbak Izam. Dalam hatiku berkata: mungkin mbak’ Izam kemungkinan sedang diperjalanan, jadi tidak dengar kali ya bahwa ada pesan smsku masuk hehehhe.

Selang beberapa waktu kemudian, tiba-tiba aku melihat dan mengalihkan perhatian kepada seorang perempuan yang sedang berdiri di dekat pintu pagar masuk SD, tanpa pikir panjang aku perlahan menghampiri dan meyakini bahwa dia salah satu teman tim relawan. Saya mencoba mendekat, dengan tanpa basa basi aku langsung menegur dan bertanya, apakah mbak dari tim kelas inspirasi? Dan ternyata dugaan saat tidak meleset, dengan wajah senyum bersahabat sambil mengulur berjabat tangan, dijawabnya: oh iya benar.. aku “Dwi”.

Sambil menunggu teman lain, saya dan Dwi memutuskan untuk masuk kedalam lebih dahulu untuk menemui Kepala Sekolah, yang saat itu juga upacara baru saja selesai.
Sungguh senang rasanya, Ibu Asri Sukaria (Kepsek) menyambut kami dengan hangat, mempersilahkan duduk sambil menikmati snack yang disediakan diatas meja. Tak lama berselang kemudian, akhirnya teman-teman tim relawan pada berdatangan (mbak’ Izam & mbak’ Dian) hingga menjadi lengkap semuanya ketika mas Diki sang fotografer tercakep datang.

Tiba saatnya kami beraksi, berharap dapat menginspirasi adik-adik yang masih mengenyam pendidikan dasar.
Sempat membuat saya terharu karena kami dapat berkumpul dari berbagai profesi tetapi menjadi lebur dalam satu kepentingan bersama menginsipirasi adik-adik SD dan membangun mimpi mereka.
Dengan didampingi oleh ibu Kepala sekolah, kami memasuki kelas di lantai 2 (dua) yang sebelumnya oleh bapak ibu guru telah mengarahkan adik-adik siswa kelas VI (enam) untuk mengambil posisi lebih dahulu dalam ruangan tersebut, setelah itu nanti akan bergantian sesi dengan adik-adik siswa kelas V (lima).
Memasuki kelas dihari itu sungguh pengalaman berharga yang tidak bisa saya lupakan. Dengan sapaan hangat bersahabat kepada adik-adik yang berada didalam kelas, ibu kepala Sekolah membuka sebagai pengantar, sekaligus menyampaikan bahwa sebentar lagi dari kelas inspirasi Surabaya akan berbagi cerita pengalaman masing-masing tentang profesi dan aktifitas yang sedang dijalani hingga saat ini.

Akhirnya kami memulai. Sesuai kesepakatan bersama tim relawan, tiba giliran saya yang mengawali untuk berbagi inspirasi. Saya awali dengan perkenalan.
Wow..sungguh luar biasa adik-adik disaat itu, mereka kelihatan pintar-pintar. Saya katakan demikian bukan tanpa alasan. Aku sempat tertegun dan kaget melihat mereka di saat aku baru awal-awal memperkenalkan diri dengan melempar pertanyaan tentang asal daerah saya. Baru memulai ngomong bahwa saya bukan asli Surabaya, tiba-tiba seorang adik laki-laki yang duduk dibarisan sebelah kanan menyahut dengan spontan berkata: “Medan..!”, sungguh aku kaget koq bisa ditebak gitu ya. Tanpa pikir panjang lagi, dengan segera meresponi dan mengapresiasi apa yang dikatakannya, langsung saya hampiri dan berkata betul dik, kak Firman asalnya dari Medan lebih tepatnya Nias, sambil mengancungkan jempol sebagai tanda pujian pada adek tersebut. Namun sampai saya menulis ini, sebenarnya aku masih penasaran koq bisa yach adek itu tahu? padahal itu pertama kalinya aku datang di SD itu loh, atau mungkin ditebak dari khas suaraku kali ya…hehhehe.


ANAK-ANAK NEGERI BERHAK KEJAR CITA-CITA SETINGI-TINGGINYA.

Secara pribadi, berada diantara mereka saat itu seolah merasakan kembali semangat masa kecil, riuh ruangan kelas, hingga pertengkaran-pertengkaran kecil.
Wajah-wajah mereka semakin tampak berseri ketika saya bertanya siapa diantara adik-adik yang punya cita-cita? Tak satupun yang tidak meresponi, semuanya mengangkat tangan sambil berkata “sayaaaaa…”.

Mereka punya cita-cita yang sungguh luar biasa,  bahkan ketika aku minta untuk menuliskan cita-citanya masing-masing di sebuah lembaran kartu cita-cita yang sudah saya siapkan (seperti tampak pada gambar slide ppt diatas), bahkan ada yang bertanya, apakah kami boleh menuliskan lebih dari satu cita-cita? sambil tersenyum saya mengatakan boleh, kalian semua berhak bercita-cita apa saja, silahkan tuliskan cita-cita yang diimpikan.

Wow..ternyata sungguh banyak dan bervariasi cita-cita yang mereka tulis di lembaran itu, mulai dari menjadi tenaga kesehatan(seperti Perawat, Dokter, Bidan, Ahli Gizi, Apoteker), tenaga pendidikan(seperti Dosen, Guru),Pengacara, Notaris,Polisi, Tentara,Jurnalis, Wartawan, Penulis, Pembicara,Pengusaha/Owner, Wiraswasta, Pebisnis (Business man),Artis, Penyanyi, pemain Film,Pilot, Kapten, ada juga yang bercita-cita menjadi Pemimpin(seperti Presiden, Gubernur, Bupati, Rektor, Kepala Sekolah) dan bahkan tidak sedikit juga yang bercita-cita sekolah setingi-tingginya.

Mendengar dan melihat cita-cita luar biasa yang mereka tuliskan itu saya langsung terbakar semangat untuk segera memberi penguatan bahwa cita-cita yang mereka impikan pasti bisa dicapai.
Dengan bantuan slide power point, aku bercerita sambil menunjuk gambar (yang no.1) bahwa kak Firman pernah seperti adik-adik. “Saya dulu pun pernah duduk seperti adik-adik sekarang ini ketika masih duduk di SD,”.
Sebelum menjadi seperti saat ini sebagai Dosen, Jurnalis & juga Owner, semua jenjang pendidikan kak Firman jalani mulai tingkat SD, SMP, SMA, perguruan tinggi S1, S2 hingga saat ini bisa sekolah Doktor S3 yang merupakan sekolah terakhir, sekolah tertinggi di dunia.

“Semua ini saya peroleh melalui proses belajar. Jadi saya berharap agar adik-adik sekalian untuk belajar dengan sungguh-sungguh, jujur dan displin.

Selain itu juga adik-adik harus ta’at dan hormat pada orangtua dan guru, juga saling menyayangi dan menghargai teman, sebab teman merupakan saudara untuk berbagi rasa dan teman berdiskusi.
“Di samping itu kita ini merupakan mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Untuk itu jangan pernah sekalipun menyakiti hati teman.

Saya sangat senang melihat mereka sangat antusias mendengar penjelasan yang saya sampaikan. Mereka mendengarkan dengan seksama, tampak suasana kelas menjadi sangat hidup, barangkali karena kami orang luar yang mengajar dikelas menjadi sebuah fenomena baru yang mereka alami hari itu.
Setelah saya jelaskan semuanya tentang aktifitas sehari-hari saya sebagai mahasiswa S3, Dosen, Jurnalis & Owner, dibagian akhir saya beri kesempatan mereka bertanya.
Seru sekali…sungguh banyak pertanyaan seputar cita-cita yang mereka impikan kelak.
Ada yang bertanya apa dia boleh jadi dosen?, bahkan ada yang minta untuk diceritain bagaimana cara agar bisa sekolah setinggi-tingginya, sekolah doktor S3 seperti kak Firman?.

Sebelum menjawab pertanyaan mereka, sambil tersenyum saya mengajak mereka semua untuk berdiri ditempat. Dengan panduan, saya meminta mereka menjawab yel-yel cita-cita. Ketika saya katakan Apa cita-citamu? Maka mereka harus menjawab sesuai cita-citanya masing-masing (……………), trus setelah itu saya lanjut dengan kata Apa Bisa? dengan sambil mengepalkan kepalan tangan mereka masing-masing dan seolah melompat tinggi keangkasa, mereka harus menjawab,  AKU PASTI BISAAAAA..!


BAGAIMANA AGAR SUKSES MERAIH CITA-CITA?
Sebagai contoh, saya ingat ketika masuk sekolah SMA di Tuhemberua-Nias. Waktu itu sekolah SMA yang dekat kampung saya belum ada sehingga kalau mau lanjut sekolah terpaksa harus menempuh jarak sekitar 20 KM ke ibukota kecamatan. Waktu itu karena keterbatasan ekonomi keluarga, setiap hari jam 5.00 subuh ibu saya selalu mendorong dan dengan sabar menyediakan obor sebagai penerang jalan agar saya tetap sekolah dengan jalan kaki melewati hutan yang gelap dan penuh keheningan. Belum lagi ketika musim hujan tiba, berkali-kali saya harus melewati menyeberangi banjir sungai karena rumah saya berada diseberang sungai. Saya harus sampai di sekolah tepat waktu untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh bapak ibu guru.

Jujur saja, itu bukan pekerjaan yang menyenangkan. Ada kalanya saya begitu lelah dan merasa merinding dan takut melewati hari yang masih gelap dan banjir yang cukup mengancam. Tetapi saya sadar, menyerah bukan pilihan yang tepat karena saya punya tekad untuk sekolah setingi-tingginya. Lalu apa yang membuat saya terus bertahan, bahkan mampu melakukannya penuh dengan senyuman?

Jawabannya dua kata yaitu: “disiplin diri”. Saat itu saya sering berdialog dengan diri saya sendiri. Saya membayangkan bahwa suatu hari kelak saya akan menjadi orang sukses. Saya membayangkan berdiri didepan orang banyak untuk berbagi sesuatu tentang kisah hidup saya yang menginspirasi banyak orang.

Pada saat melihat bapak ibu guru sedang berdiri didepan kelas membagikan sesuatu ilmu kepada anak didiknya, saya membayangkan saya lebih dari itu. Saya menembus waktu dan ruang. Saya melihat Firman Telaumbanua masa depan.

Itulah salah satu pengalaman saya tentang kekuatan visualisasi atau gambaran masa depan. Memang sampai saat ini saya belum diprofilkan, tetapi harapan dan gambaran besar itu terus memacu saya untuk terus melangkah maju.
Apakah kelak wajah saya berhasil menghiasi indonesia? Saya tidak tahu. Tetapi saya tahu satu hal, bahwa visi, harapan dan gambaran besar itu terus memacu langkah saya untuk terus berkarya.

Salam hangat, terimakasih semuanya,
Salam Inspirasi.

@@@
Kelas Inspirasi Surabaya - Jawa Timur.  
Kelompok Tim KI SDN MARGOREJO 1  SURABAYA 
Fasilitator 
Izam Ainie  :  (UNESA)
Dwi Indah  :  (ITS)

Inspirator/Pengajar 
Dian Permatasari       : Pegawai Bank
Firman Telaumbanua  : Mahasiswa

Photographer
Diki          : Karyawan Swasta

Minggu, 14 September 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Mengenal Pemimpin Luar Biasa: Charles De Gaulle

Tanpa Charles De Gaulle, Perancis Kacau.

Sekilas tentang Charles De Gaulle
Charles André Joseph Marie de Gaulle lahir di Lille, 22 November 1890 – meninggal di Colombey-les-Deux-Églises, 9 November 1970 pada umur 79 tahun, yang dikenal dengan Jéndéral de Gaulle adalah pimpinan militer dan negarawan Perancis.

Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan satu dari sekian tokoh militer sekaligus politik Perancis yang paling berpengaruh di era modern. Sebelum Perang Dunia II, dia dikenal sebagai penyusun taktik tank dan merupakan pendukung penggunaan kendaraan lapis baja dan pesawat tempur. Dia adalah pemimpin kelompok pejuang Perancis Merdeka dalam Perang Dunia II dan merupakan kepala pemerintahan pelarian Perancis pada 1944 - 1946. Dipanggil untuk masuk pemerintah pada tahun 1958, beliau menginspirasikan terbentuknya konstitusi baru dan merupakan presiden pertama dari Republik Kelima Perancis antara tahun 1958 sampai 1969. Ideologi politiknya dikenal sebagai Gaullisme, yang akan sangat berpengaruh dalam perkembangan politik Perancis selanjutnya.

Jendral yang namanya diabadikan dalam Bandara Udara Internasional Charles de Gaulle ini juga menjadi inspirasi bagi terbentuknya konstitusi baru sejak aktif dalam dunia pemerintahan mulai 1958. De Gaulle juga sempat menjadi Perdana Menteri Perancis sebelum akhirnya dilantik sebagai Presiden pertama dari Republik Prancis Kelima pada 1958 hingga 1969.

Selama Perang Dunia I, de Gaulle tercatat banyak menerima penghargaan atas jasanya di medan pertempuran. Pada Perang Verdun 1916, politikus yang juga aktif menulis ini sempat mengalami luka bahkan menjadi tawanan musuh. Setelah beberapa kali gagal dalam upaya melarikan diri, de Gaulle dibebaskan pada akhir perang.

Pada akhir dekade 1950an, Prancis mengalami gonjang-ganjing politik dan berujung pada keruntuhan pemerintahan yang saat itu juga dikenal dengan sebutan Republik Keempat. Masa-masa ini de Gaulle muncul sebagai figur penting dalam pemerintahan bahkan bisa disebut sebagai yang paling berpengaruh dalam politik Prancis saat itu. Penerima berbagai penghargaan tertinggi dari berbagai negara di belahan dunia ini banyak berperan dalam pembentukan negara Republik Prancis kelima.

Menjadi presiden pada Januari 1959, Charles de Gaulle lebih mendedikasikan dirinya untuk perbaikan situasi ekonomi Prancis sekaligus memilih mempertahankan 'kemerdekaan' melalui upaya memisahkan diri dari dua negara adidaya saat itu: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Presiden kelahiran kota Lille, Prancis ini bahkan melancarkan program kampanye besar-besaran untuk menekan program nuklir Prancis demi membuktikan relevansi dan kemandirian militer negara Eiffel tersebut.

Sejak menjabat sebagai Presiden, ideologi politik de Gaulle, juga terkenal dengan istilah Gaullism, mampu memberikan pengaruh besar dalam perkembangan pemerintahan Perancis. Terkait kebijakan luar negeri, Gaullism berarti kemerdekaan nasional untuk memegang kendali utuh atas koloni Perancis, sekalipun kebijakan ini harus dibayar dengan konsekuensi pertentangan dari dua organisasi internasional terbesar saat itu NATO dan EEC.

Sayangnya, terkait kebijakan dalam negeri, ideologi Gaulisme banyak digambarkan dalam bentuk paham populis dan ego-sentral. Citra diri melalui monopoli media terbukti bukan strategi tepat bagi Jendral de Gaulle. Rakyat Perancis, khususnya kalangan akademik, berangsur-angsur bosan hingga muak melihat citra diri Gaulisme yang dianggap terlalu konservatif, Katolik, represif dan merendahkan martabat wanita sebagai kelompok inferior.

Menyatunya 'kebosanan dalam negeri' ini yang akhirnya memicu salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia modern, Mei 1968. Presiden De Gaulle sendiri bahkan sempat dikabarkan 'hilang' dari pemerintahan karena lari ke wilayah Baden-Baden, Jerman tanpa memberitahu seorang pun dalam parlemen termasuk Georges Pompidou, sang Perdana Menteri sendiri. Mengikuti keinginan publik pasca Mei 1968, Presiden Charles de Gaulle secara resmi menyerah pada 28 April 1969 setelah program reformasi Senat dan pemerintahan daerah yang diajukan melalui referendum nasional dinyatakan gagal.

Signifikansi dari keruwetan politik, militer, ekonomi, sosial, hingga akademik yang bercampur menjadi satu dalam Gerakan Mei 1968 di Prancis bisa sangat dipahami jika peristiwa ini dipahami sebagai bagian dari guliran bola salju yang menjadi tonggak kelahiran 'dunia baru' dalam bidang pemerintahan, sastra, ekonomi, sosial, teknologi hingga budaya: Pasca-modernisme.

Selain dikenal sebagai tokoh militer dan politik, Charles De Gaulle juga memiliki nama cukup besar sebagai penulis berwawasan luas, khususnya terkait masalah atau tema kemiliteran. Karyanya banyak mengulas tuntas berbagai permasalahan militer, baik sebagai kekuatan perang maupun sebagai sarana pendukung politik, dan menjadi acuan berbagai negara di dunia. Beberapa laporan bahkan menyebut langkah militer yang disarankan de Gaulle diikuti tepat seperti jarum jam oleh tentara Jerman saat Perang Dunia II.

Mantan presiden, penulis sekaligus tokoh militer Prancis, Charles André Joseph Marie de Gaulle, wafat secara mendadak pada 9 November 1970, saat menonton televisi dan bermain Solitaire sekitar pukul 7:40 malam waktu setempat. Berdasarkan pernyataan istrinya, de Gaulle sempat menunjuk ke arah leher dan mengaku merasakan sakit di daerah tersebut sebelum jatuh tak sadarkan diri. Laporan medis post-mortem menyebut de Gaulle meninggal akibat pecah pembuluh darah, atau aneurysm dalam istilah medis.

Atas berita mangkatnya de Gaulle, Presiden Prancis saat itu, Georges Pompidou, memberikan pidato resmi paling singkat, namun juga paling bermakna sepanjang sejarah, "Jendral de Gaulle telah wafat, dan Prancis telah menjanda".

Tanpa Charles De Gaulle, Perancis Kacau

Menjadi tema utama kampanye Charles De Gaulle pada pemilu Presiden tahun 1965. Ternyata kalimat pendek itu mampu meyakinkan rakyat Perancis yang kemudian memilihnya kembali menjadi Presiden. Orang besar sering melontarkan ungkapan berani, mengejutkan, atau bahkan menyakitkan hati. Charles De Gaulle seorang jendral yang juga politikus itu, seringkali melontarkan kata-kata yang bisa menbuat shock ketika ia berkunjung ke Kanada, Juli 1967, De Gaulle menyerukan “Hidup Quebec merdeka!”tentu saja seruan itu menyinggung para pemimpin Kanada. Semua orang tahu, Quebeq adalah negara bagian Kanada. Sekalipun rakyat wilayah itu berbahasa Perancis, pemerintah Ottawa tidak akan membiarkan pemisahan diri Quebeq dari Kanada. Dibanding pemimpin Eropa Barat lainnya, De Gaulle paling terang-terangan menyatakan tidak mendukung perang Vietnam. Perang Vietnam menghalang-halangin perdamaian dunia. Bila Amerika Serikat menarik mundur tentaranya dari Vietnam, Perancis akan membuka pintu lebar-lebar bagi tercapainya perdamaian dunia. Perancis juga bersedia membantu negara-negara berkembang, termasuk Vietnam,” katanya.

Tapi tidak ada bantuan yang “gratis”.begitu kata De Gaulle tanpa basa-basi. Artinya semua bantuan suatu negara ke negara lain selalu mengandung pamrih politik.”Tidak ada negara yang punya sahabat, sebab yang ada adalah kepentingan,” katanya lagi. Bagi De Gaulle, perang Vietnam akan menghancurkan Perancis. Seperti diketahui, sejak menjajah kawasan Indocina , Perancis selalu mengusahakan pengakulturasian kebudayaannya dengan tradisi lokal.

Setelah perang saudara di daratan Cina berakhir dan Chiang Kay Sek pindah ke Taiwan, De Gaulle mengejutkan Inggris dan Amerika. Ia memberikan pengakuan kepada pemerintah Komunis Republik Rakyat Cina (RRC) yang didirikan Mao Zedong. Reaksi keras yang datang dari banyak negara, terutama Blok Barat, tidak membuatnya kecil hati. Dengan tenang De Gaulle menjawab reaksi tersebut,”Saya hanya mendahului satu proses yang tidak terhindarkan. Lusa kalian akan mengikuti saya. Lihat saja nanti, cepat apa lambat Dunia akan mengakui RRC.” Dan memang benar banyak negara yang tadinya hanya mengakui Taiwan, mengubah politik luar negerinya menjadi ”dua Cina”. Atau dengan kata lain mengakui RRC juga. Dalam perkembangan lebih lanjut mereka kembali berpolitik luar negeri “satu Cina”. Namun satu Cina itu bukan lagi Taiwan, tetapi RRC. Ternyata De Gaulle benar, sekarang RRC menjadi salah satu raksasa dunia. Negara komunis dengan sistem ekonomi yang makin kapitalis itu.

Sikap De Gaulle memang sering membingungkan kawan dan lawan. Bahkan London dan Washington pun sering dibikin pusing. Dibandingkan pemimpin-pemimpin Perancis lainnya seperti Mitterand ,Chirac, Valery Giscard, De Gaulle lebih blak-blakan dan nyaris tanpa basa-basi. Ia pernah mengecam AS dan mengangap terlalu sentimental dalam menanggapi perkembangan politik internasional. Perancis, katanya bersekutu dengan Amerika Serikat hanya kalau ada manfaat bagi kedua belah pihak. Seperti para pemimpin Rusia dan Cina, De Gaulle bisa dikelompokan dalam “gerontolog” para pemimpin yang masih berkuasa pada masa lanjut. Orang-orang seperti Breznev, Mao Zedong,Golda Meir,Deng Xiaoping bisa dimasukan dalam kelompok ini. De Gaulle masih berkuasa di atas usia 70 tahun. Masih enerjik dan suka marah. Maka ia sering mendapatkan julukan ”anak muda pemarah”. Charles De Gaulle pembaca buku sejarah yang baik. Obsesinya kelak suatu hari ia akan memimpin Perancis dengan terilhami oleh buku-buku sejarah yang dibaca. Ia tidak hanya membaca, tetapi menghayati bacaannya. Bagi De Gaulle hidup itu bukan gelak ketawa dan kesenangan. Hidup adalah perjuangan keras untuk meraih kekuasaan. Ada misteri yang belum terjawab sekitar keluarga De Gaulle. Ada yang bilang ia masih satu kerabat dengan Winston Churchil dan Ratu Ellizabeth. Tentang hal itu, kebenaran belum bisa dipastikan. Yang jelas karena tubuhnya yang tinggi besar ia menjadi sulit dilupakan. Dalam film The Day of the Jackal ada adegan menarik berkaitan dengan tubuh De Gaulle. Komplotan orang yang ingin membunuhnya menugaskan pembunuh bayaran. Perhitungan mereka tidak sulit membunuh orang bertubuh tinggi besar. Sang Pembunuh bayaran bersembunyi di sebuah gedung yang berseberangan dengan lapangan upacara tempat penyambutan presiden Perancis itu. Jackal, sang pembunuh sudah siap dengan senjata laras panjang di tangan. Kedua mata siap membidik dan jari-jari siap menarik pelatuk.

Presiden De gaulle turun dari mimbar dan siap untuk memberikan tanda jasa kepada seorang pahlawan Perancis yang duduk di kursi roda. Si Jackal, sudah mengarahkan moncong senjata ke kepala sang Presiden dan senjata pun meledak. Tapi bersamaan dengan itu, De Gaulle membungkuk untuk menyematkan medali ke baju laki-laki di kursi roda. Tembakan meleset dan Jakcal di tangkap. Mungkin cerita ini hanya fiksi belaka, namun itu sisi-sisi manusiawi dari pemimpin Perancis yang sering dianggap kaku dan tanpa humor ini. Seorang penulis menggambarkan De Gaulle serius, tanpa hobi, tanpa kegemaran, bersih dari skandal, namun juga tanpa kehidupan social yang menonjol. Kehidupannya hambar dan jauh dari romantisme percintaan. Sepertinya ia hanya melangkah di satu jalan, yaitu jalan menuju kekuasaan. Semua orang tahu satu-satunya hobi De Gaulle adalah merokok. Ia memang perokok berat yang bisa menghabiskan rokok beberapa bungkus dalam sehari. Tetapi dia berkata pada setiap orang bahwa dia tidak merokok. Sebagai konsekuensinya, De Gaulle memutuskan untuk berhenti merokok dan berhasil.

Banyak pemimpin dunia yang mengangap De Gaulle adalah pemimpin yang sulit diajak bicara. Presiden AS Roosevelt misalnya, mengangap De Gaulle adalah pemimpin yang tidak sesuai dengan zamannya. Egonya terlalu besar dan sulit diajak berkerja sama. Tapi Joseph Stalin, pemimpin Soviet waktu itu mengatakan kalau De Gaulle memang orang sederhana, tetapi bukan orang yang sulit. Pada pemerintahan periode pertama, De Gaulle sangat kaku terhadap negara-negara jajahannya. Tetapi setelah terpilih kembali pada tahun 1958, ia mulai lunak. Rakyat Aljazair barangkali boleh berterima kasih kepadanya ketika De Gaulle mampu meyakinkan atau bisa jadi memaksa rakyat Perancis untuk mengakui kemerdekaan rakyat negeri jajahan di Afrika Utara itu. “Bahwa Aljazair sebuah negara yang merdeka dan berdaulat adalah kenyataan yang tidak bisa ditolak,”katanya

Namun sebelum Aljazair merdeka, pemerintah Paris menghadapi saat-saat yan rumit sekali tahum 1954, Perancis harus hengkang dari indocina, tetapi ia tidak mau kehilangan Aljazair. Besar atau kecil pemberontakan di Aljazair harus di tuntas habis. Namun pemberontakan sulit untuk dipadamkan. Keinginan untuk merdeka terlalu besar. Tata cara pemerintahan colonial yang keras oleh Gubernur Perancis menyulut semangat perlawanan mereka. Februari 1956 Guy Mollet, seorang pemimpin sosialis diangkat menjadi Perdana Menteri Perancis ke-19. Ia pergi ke Aljazair untuk membujuk rakyat agar mau berdamai. Tapi Mollet disambut dengan amat tidak bersahabat. Pengganti Mollet, yang juga orang sosialis, Robert Lacoste, juga tidak berhasil mengatasi keadaan. Kemerdekaan Aljazair merupakan keharusan.

Tentang persoalan Aljazair itu De Gaulle memilih tutup mulut. Kepala pemerintahan terus berganti tetapi belum mampu menyelaesaikan masalah Aljazair. Front Pembebasan Nasional semakin sulit dikendalikan. Tuntutan mereka adalah kemerdekaan. Terakhir, sebelum tampilnya kembali De Gaulle, Perancis dipimpin oleh PM Pierre Pflimlin yang berada di bawah bayang bayang penetangan para jendral Perancis di Aljazair. PM baru ini tetap tidak dapat mengatasi keadaan. Dukungan rakyat Perancis dan Aljazair kepada De Gaulle mulai terlihat. Pemerintah PM Pflimlin mulai goyah.

Tanggal 28 Mei 1958, Pflimlin mengundurkan diri dan menyerahkan mandate pemerintahan kepada presiden Coty . Sehari kemudian Presiden Coty mengangkat Charles De Gaulle menjadi Perdana Menteri baru menggantikan Pierre Pflimlin. Menurut Coty, De Charles De Gaulle adalah pemimpin Perancis yang sepanjang hidupnya mengabdikan kepada tanah air dan menolak kediktatoran. “ Hanya Dia yang layak untuk membentuk pemerintahan Republik,”katanya.
Dan kita pun ingat kata-kata De Gaulle yang terkenal itu, Tanpa aku Perancis kacau.

Pustaka:

Leadership and Character: 10 Virtues of Outstanding Leaders, First Edition, Al Gini & Ronald M Green

http://obrolan2desainer.wordpress.com/biografi/charles-de-gaulle-tanpa-aku-perancis-kacau/

http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_de_Gaulle

Jumat, 12 September 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ceritaku di Kuliah Perdana S3 Manajemen Pendidikan Unesa 2014

Akhirnya mahasiswa baru Angkatan  2014 prodi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengikuti kuliah perdana di Gedung K-02.02.04 hari ini, Jum’at (12/09/2014). 

Mahasiswa baru yang insya Allah akan menjadi pakar/doktor Manajemen Pendidikan ini disambut hangat dengan kuliah perdana oleh Pembina mata kuliah Supervise Pendidikan, Prof. Dr. Made Pidarta dan mata kuliah Filsafat Manajemen oleh Dr.Totok Suyanto, M.Pd.


Sungguh penuh kebahagiaan saya rasakan di kuliah perdana S3 MPD Unesa ini. Walaupun secara waktu belum lama mengenal dan bertemu dengan teman-teman/calon pakar alias para senior hebat ini, namun ketika mendengar dan bertatap muka dengan mereka, seolah saya mendapat pantulan semangat yang berkobar-kobar untuk tetap melangkah berjuang meraih cita-cita menjadi Doktor Manajemen Pendidikan.
Kelihaian para calon pakar management pendidikan ini, sepertinya sudah mulai terlihat di kuliah perdana ini. Sembari menunggu dosen dan mengisi mata kuliah yang kosong MK Wawasan Manajemen Pendidikan, kami mencoba memanage waktu yg ada untuk digunakan sebagai sesi perkenalan. 

Luar biasa…secara pribadi sungguh berkesan dan merasa ceria saat mendengarkan cerita satu per satu tentang perjuangan hidup mulai dari zaman batu hingga akhirnya terdampar dan mau melanjutkan S3 Doktor MPD di Unesa hehhee.









Acara perkenalan ini lebih seru lagi ketika bunda bu Tri Woro Purnoningrum dan pak Muhamat Saikhu bercerita sambil memberikan humor yang Jossss gandossss (istilah bunda bu Peni Priyono hehehe) membuat para peserta bisa ketawa super haqhahqhaq.

Ketika giliran pak Adi Faridh tengah berkenalan dan bercerita, sesi perkenalan ini terpaksa terhenti dan bersambung dilain waktu karena dosen mata kuliah Filsafat Manajemen Dr.Totok Suyanto, M.Pd tiba di kelas.
Ceritanya bersambung ya kwkkwk………….



==================================================================
BERIKUT NAMA MAHASISWA S3 DOKTOR MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA T.A  2014
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
N I M 147976003 Nama Mahasiswa RACHMIE SARI BASO
N I M 147976004 Nama Mahasiswa MOH. MUZAQI, S.PD, M.SI
N I M 147976006 Nama Mahasiswa RISTIWI PENI
N I M 147976007 Nama Mahasiswa MUHAMAT SAIKHU
N I M 147976008 Nama Mahasiswa AGUS SALIM,SH, MSC.
N I M 147976010 Nama Mahasiswa SUBIANTO KAROSO
N I M 147976011 Nama Mahasiswa MOHAMMAD ARIFANA
N I M 147976012 Nama Mahasiswa ADI FARIDH
N I M 147976013 Nama Mahasiswa RUDIZON BUDIMAN DOKO PATTY
N I M 147976014 Nama Mahasiswa ULIL MULTAZAM
N I M 147976015 Nama Mahasiswa AMIRUDDIN
N I M 147976016 Nama Mahasiswa BUDI TRI
N I M 147976017 Nama Mahasiswa SUGITO
N I M 147976018 Nama Mahasiswa RINAWATI
N I M 147976019 Nama Mahasiswa EFIE WIDJAJANTI
N I M 147976001 Nama Mahasiswa FIRMAN TELAUMBANUA
N I M 147976002 Nama Mahasiswa LAILI RACHMAWATI
N I M 147976005 Nama Mahasiswa BACHTIAR HARIYADI
N I M 147976009 Nama Mahasiswa TRIWORO PARNONINGRUM

Kamis, 13 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ketika Online, Wanita Kurang Berani Ambil Risiko Dibanding Pria.

Penelitian Kaspersky Lab ungkap temuan baru mengenai alasan psikologis mengapa perilaku pria dan wanita berbeda ketika online.


Kaspersky Lab mengungkap alasan mengapa wanita lebih berhati-hati ketika menggunakan Internet. Sebuah laporan mengenai perbedaan antara pria dan wanita terkait keamanan ketika online menunjukkan bahwa kaum pria lebih berani mengambil risiko ketika online, sementara para wanita cenderung bermain lebih aman dan hasilnya mereka berumur lebih panjang – secara rata-rata wanita hidup enam tahun lebih lama dibanding pria.

Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap angka harapan hidup dibanding gen atau hormon.
Menurut sebuah penelitian di Eropa[1], wanita sama antusiasnya dengan pria dalam hal menggunakan Internet, namun perilaku mereka berbeda. Kaspersky Lab bekerjasama dengan University of Wuerzburg, Jerman, mengembangkan laporan mengenai perbedaan perilaku pria dan wanita ketika online; temuan utama laporan tersebut menunjukkan bahwa ketika online pria cenderung mencari hiburan, games, dan konten seksual sementara wanita mencari komunikasi dan interaksi dengan teman atau pasangan mereka[2].

“Selama masa penelitian, kaum pria melaporkan berbagai jenis serangan malware dua kali lebih banyak dibanding wanita. Para wanita diharapkan untuk lebih bertanggung jawab, patuh, dan tidak mengumbar nafsu mereka, dan oleh karena itu, bergantung pada gender seseorang, mereka melakukan peran tertentu, dan ini menghasilkan stereotipe perbedaan gender,” papar Professor Dr. Frank Schwab, media psychologist dari University of Wuerzburg.

Jadi siapa yang benar – apakah risiko besar berarti hasilnya juga besar?
Dalam hal risiko, para wanita lebih suka menyerahkan hal ini kepada kaum pria. Mengapa wanita mengambil risiko yang bisa menempatkan mereka dalam bahaya ketika ada pria yang sukarela mengambil risiko itu untuk mereka?

Cara yang ditempuh para wanita ketika online tidak hanya lebih aman tetapi juga menjanjikan hidup yang lebih lama. Selain itu, sifat penyayang pada wanita menghasilkan perilaku yang lebih komunikatif dan lebih perhatian baik ketika online maupun offline. Dalam hal risiko, para wanita lebih memilih cara yang lebih masuk akal, dan penuh pertimbangan dan hasilnya, risiko terhindari dan hidup lebih aman.

“Ada peningkatan risiko terinfeksi ketika membuka situs tertentu – termasuk situs porno dan judi. Yang membuat situs tersebut tidak aman bukan semata karena kontennya, tetapi kenyataan bahwa situs-situs tersebut menarik pengunjung dalam jumlah banyak, dan ketika pengunjung tinggi, pasti ada penjahat cyber. Di situs-situs seperti ini para penjahat cyber menemukan sejumlah besar calon korban mereka, dan di situs seperti ini psikologi calon korban juga berada di tangan penjahat cyber. Para korban biasanya tidak akan komplain bila mereka terkena infeksi komputer ketika membuka situs-situs di atas, atau tidak akan komplain bila menjadi korban penipuan (scam) ketika membuka konten porno,” urai David Emm, Security Researcher, Kaspersky Lab.

Namun demikian, faktor keamanan tetap menjadi topik penting untuk semua, terutama bagi pria, yang cenderung lupa atau mengabaikan risiko keamanan. Secara umum, software anti-virus harus diinstal di perangkat apa pun yang terkoneksi ke Internet.

http: // www. tribunnews. com/iptek/2014/03/13/ketika-online-wanita-kurang-berani-ambil-risiko-dibanding-pria

Kamis, 27 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

DENGAR KISAH MAHASISWA KEPERAWATAN, SBY MENANGIS

YOGYAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menangis ketika mendengar kisah Birrul Qodriyah. Birrul adalah salah seorang penerima program Bidikmisi, yang kini kuliah Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, walau orang tuanya hanya menjadi buruh tani.

“Saya menangis mendengar testimoni tadi, karena itulah yang saya alami dulu,” kata Presiden SBY saat memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi dengan 1.000 Mahasiswa Program Bidikmisi yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata di atas 3,6 dan memiliki prestasi khusus di luar akademik, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (27/2/2014).

Birrul Qodriyah adalah putri sulung keluarga petani Dusun Puton, Jetis, Bantul, DIY, yang mewakili ratusan mahasiswa peraih beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Orangtua saya bukan hanya buruh tani. Sekali menanam hanya mendapat uang Rp 5.000," kata Birrul Qodriyah menuturkan kesedihannya ingin kuliah tapi tak mampu.

Berkat Bidikmisi, Birrul Qodriyah akhirnya bisa kuliah, bahkan menyabet penghargaan Mahasiswa Bidikmisi Berprestasi tingkat Nasional 2013.

Presiden kemudian mengisahkan pengalamannya sekitar akhir tahun 60-an, dimana banyak teman-temannya yang pandai tapi tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi. “Kalau pertemuan ini terjadi pada tahun ’61, saya pasti hadir sebagai peserta Bidikmisi,” katanya seperti dilansir Tribunnews dari laman khusus Setkab.

Kepala Negara yang hadir di acara Silaturahmi 1.000 Penerima Bidikmisi itu dengan didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono mengemukakan pemerintah mengikuti falsafah pembangunan untuk semua, semua harus terangkat. Kalau ada hasil pembangunan, kata Kepala Negara, semua harus merasakan hasil tersebut.

Pendidikan pun, lanjut Presiden, adalah pendidikan untuk semua. “Tidak boleh ada anak-anak di negeri ini yang kesulitan ekonomi lantas tidak bisa sekolah, mereka punya hak dan peluang yang sama, mereka juga memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya,” tegas Presiden.

Oleh karena itulah, menurut Presiden SBY, tahun demi tahun pemerintah mengeluarkan kebijakan agar anak-anak yang tidak mampu bisa terus mewujudkan mimpinya, dengan memberikan bea siswa bagi yang berprestasi dan tidak mampu. “Itu semua untuk mewujudkan pendidikan untuk semua. Pemerintah menggratiskan total untuk mahasiswa yang benar-benar tidak mampu,” papar SBY.

http: //www. tribunnews. com/nasional/2014/02/27/dengar-kesaksian-birrul-sby-menangis